PLURALISME, why not?

Allah SWT menciptakan makhluk-Nya berpasang-pasangan, untuk saling melengkapi satu sama lain. Siang-malam, tua-muda, hidup-mati, besar-kecil dan seterusnya. Hanya Allah SWT yang Esa, tiada duanya. Sehingga kehidupan ini menjadi serba indah, penuh dengan cinta kasih-Nya.

Namun, ketenteraman itu telah direnggut oleh manusia-manusia jahil yang mengedepankan ego untuk memuaskan nafsu syetan. Mereka saling menumpahkan darah serta membakar peradaban mulia yang telah lama berkibar di bumi. Lupa akan janji Allah SWT, bahwa setiap perbuatan akan mendapat ganjaran setimpal. Berlaku baik akan menyenangkan, sebaliknya berlaku buruk akan menyengsarakan.

Wajar memang jika malaikat pernah protes ketika Allah hendak menjadikan manusia sebagai khalifah. Terbukti 100%, manusia cenderung anarkhis dalam bertindak. Hanya karena berbeda (baju/bendera/suku/ideologi/agama/iman), mereka tak segan-segan untuk merusak, membakar, bahkan membunuh orang yang berbeda itu.

Padahal, kita semua berasal dari nafs al-wahidah yakni satu kesatuan. Semua berasal dari Allah SWT, tak ada yang mengingkari itu. Lantas mengapa hanya karena propaganda oknum yang tak bertanggung jawab, kita semua terlena dan acuh terhadap sunatullah. Manusia diciptakan berbangsa-bangsa,bersuku-suku, berbeda satu sama lain adalah untuk saling mengenal serta melengkapi. Itu merupakan fitrah manusia sebagai khalifah Allah SWT.

Ironis memang, manusia sebagai citra Allah SWT yang idealnya “manut” kepada titah-Nya, sepanjang sejarah peradaban manusia selalu saja mengkhianati Allah dengan berbagai alasan. Alih-alih Allah SWT Maha Pengampun, manusia seenaknya berbuat dimuka bumi. Menerkam siapa saja yang menghalanginya, tak pandang musuh atau saudara.

Problem yang sering muncul tentu terkait SARA, khususnya agama. Setiap orang mengklaim agamanya yang paling benar dan agama lain salah sehingga hanya agamanya saja yang pantas masuk surga. Konflik juga timbul dalam satu agama, tak terkecuali Islam. Masing-masing kepala memiliki interpretasi yang berbeda mengenai ajaran Islam, terlebih dalam persepsi mengenai Allah SWT.

Islam yang dulunya satu, kini terpecah bagai buih dilautan. Syi’ah, Sunni, mu’tazilah, asy aiah, fundamental, liberal, plral, adalah kelompok-kelompok yang saling bersitegang entah sampai kapan. Disadari atau tidak, sebenarnya kelompok-kelompok tersebut diciptakan oleh Barat. Islam tidak pernah mengenal istilah tersebut, Islam hanya mengenal rahmatan lil’alamin.

Apapun alasannya, perbedaan dalam sebuah kesatuan merupakan suatu keniscayaan. Karena pada hakikatnya, semua berasal dari Allah SWT dan akan kembali kepada-Nya. Hidup dalam keberagaman tentu lebih indah ketimbang hidup monoton yang mengingkari sunatullah.