Mulutmu Harga Dirimu!

B

eberapa waktu lalu, seorang pemain bola menyatakan bahwa sepakbola adalah sesuatu yang tidak ada kaitannya dengan bisnis melainkan murni kegemaran mengolah si kulit bundar. Apa yang ia ucapkan seharusnya teraplikasi kepada kenyataan serta ia tidak mudah tergoda oleh iming-iming lembaran uang yang bertumpuk-tumpuk. Pemain muda dari klub kecil yang mengalami krisis financial sering berbenturan dengan nurani ke-sepakbola-an, disatu sisi mereka ingin bertahan dengan idalisme tapi disisi lain mereka juga butuh uang.

Ironis memang jika kita perhatikan pernyataan tersebut yang sangat jauh dari realitanya. Saat ini tentu yang terlintas dibenak setiap pemain bola adalah mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya agar dimasa tua ia tidak kesulitan untuk bertahan hidup, mengingat sepakbola telah beralih ke industri yang menjanjikan.

Tidak beda dengan seorang ustadz dan sejenisnya yang bicara manis (hanya) didepan kelompoknya kemudian ketika berada di masyarakat umum lain cerita lagi. Atau kadang ia hanya berani berkata didepan anak-anak kecil yang tidak tahu apa-apa, yang hanya bisa manggut-manggut meng-iya-kan perkataannya. Bagaimana ingin merubah suatu peradaban kalau setiap saat dibutuhkan oleh public, ada saja alasannya. Harusnya, ketika ia memang tidak sanggup bicara didepan umum maka ia tidak usah menggebu-gebu berkampanye tentang perubahan. Katakan yang haq itu haq dan yang bathil itu bathil, apapun kondisi dan tempatnya!

Karena lidah tidak bertulang, terkadang kita seenaknya berbicara kemudian jika dikonfirmasi langsung mengelak bahkan menampiknya. Apa yang keluar dari lisan seseorang adalah cermin akhlaknya, apakah pantas seorang ustadz dan sejenisnya bersikap demikian? Kalau tidak maka tunjukkan pada DUNIA!