“NATAL”

MUHAMMAD IBN ABDULLAH

Tanggal 12 rabi’ul awal sangat bernilai karena diyakini pada hari itu adalah kelahiran seseorang yang dapat memberi warna dalam peradaban kehidupan manusia. Jika kita cermati lebih teliti, sebenarnya saat itu yang lahir adalah seorang anak manusia yang tidak ada bedanya sama sekali dengan manusia lainnya. Anak yang lahir dari rahim Siti Aminah itu bernama Muhammad ibn Abdullah.

Sejak kecil, Muhammad ibn Abdullah hidup seperti layaknya manusia yang lain serta memilki akhlak yang sangat terpuji walau sebagai manusia juga tidak luput dari kesalahan. Ketika Muhammad ibn Abdullah mendapat wahyu kira-kira diusianya yang ke-40 bertepatan dengan bulan Ramadhan, maka segala tingkah laku baik perkataan dan perbuatannya terarah berdasarkan Allah SWT serta otomatis Muhammad ibn Abdullah berpangkat Rasulullah SAW. Sejak peristiwa tersebut, beliau menjadi seorang nabi dan rasul serta berdakwah menyebarkan Islam yang rahmatan lil‘alamin.

Selama sebulan ini, kita akan terus mendengar bahkan mendapat undangan perayaan maulid Nabi SAW. Baik dari tingkat RT, musholla, majlis ta’lim sampai ke masjid yang bonafit sekalipun pasti sibuk mempersiapkan dan mengadakan perayaan besar-besaran. Awalnya kegiatan tersebut dilakukan karena rasa cinta terhadap Rasulullah tapi lama kelamaan tidak jarang dari kita yang terjerumus pada kesombongan dan selalu berlomba-lomba menunjukkan kekayaan harta.

Setting sound dan panggung saja memakan biaya yang tidak sedikit, belum untuk mengisi acara dan lain sebagainya kira-kira mencapai jutaan rupiah. Bahkan kerapkali penyelenggara membebani umat dengan meminta sumbangan door to door, perusahaan dan pabrik layaknya pengemis. Kemudian setelah terkumpul, hanya dalam hitungan jam saja dana tersebut dihabiskan sia-sia. Sementara disekitar wilayah itu ada anak yatim, janda tua dan orang-orang yang masih berteriak kelaparan. Apakah Rasulullah SAW mengajarkan Islam yang seperti itu?.

Siapa yang harus kita ikuti? Apakah tradisi, kyai, Rasulullah atau Muhammad ibn Abdullah? Jika ingin mengikuti sunah Rasulullah SAW maka kita harus menggunakan akal dan nurani agar tidak terjerumus oleh godaan syetan yang membuat manusia selalu mengedepankan ego dan nafsu belaka. Perhatikan orang-orang dan alam disekitar kita karena mereka juga makhluk Allah yang harus mendapat jaminan ketentraman dan kenyamanan.

Jadi, yang lahir pada bulan rabi’ul awal adalah seorang anak manusia bernama Muhammad ibn Abdullah sedangkan datangnya seorang Rasulullah SAW adalah pada bulan Ramadhan. Tidak masalah memang jika tetap ingin merayakan maulid pada bulan rabi’ul awal, tetapi diharapkan esensi dari kegiatan tersebut harus bermanfaat untuk umat manusia dan tidak menimbulkan kesenjangan sosial dan gap antar kelompok. Semoga apa yang kita lakukan senantiasa diridhoi Allah SWT dan kita termasuk pengikut Rasulullah SAW. Amin