mas Gusti

Seorang raja adalah satu –satunya yang tidak bisa diganggu gugat, apa pun perintahnya harus dituruti dan jika membangkang maka raja akan menghukumnya. Pola seperti itu yang melatarbelakangi timbulnya feodalisme dikalangan masyarakat primitif. Apa pun yang diperbuat raja, rakyat harus menerimanya tidak peduli salah atau benar dan suka tidak suka.

Islam datang untuk menghapus sistem feodal pada masyarakat primitif tersebut agar setiap manusia memiliki status yang sama dihadapan Allah SWT. Lucu memang, ternyata setelah Islam datang pun masyarakat masih menerapkan budaya itu. Siapa yang kuat maka dia menang dan siapa yang menjabat maka keputusannya mutlak tidak dapat dikritik oleh siapapun.

Berkali-kali rakyat memprotes tindakan pemerintah yang semena-mena membangun koridor Busway. Konon katanya sebagai kemajuan pembangunan dan sangat bermanfaat untuk rakyat tapi nyatanya menjadi problem klasik yang tak kunjung selesai yaitu kemacetan semakin bertambah di setiap jalan.

Pemerintah tidak menggubris protes rakyat dan terus melancarkan ambisinya tanpa memikirkan kerugian masyarakat yang hanya menghabiskan waktu di jalanan menikmati macet. Sangat disayangkan memang, idealnya seorang pemimpin itu mengayomi bawahannya sehingga saling sinergis dalam membangun peradaban yang diidam-idamkan bukan mengedepankan ego dan senantiasa seorang pemimpin selalu siap menerima kritik dan saran dari yang dipimpinnya.

Fenomena tersebut harusnya tidak menjalar ke kampus yang notabene adalah pabrik akademisi sehingga kelak pemimpin-pemimpin kita tidak bersikap feodal dan selalu legowo menerima kritik dan saran. Namun apa mau dikata jika kenyataannya tidak demikian, para elit kampus dengan power-nya lebih bersikap seperti raja absolut yang tidak ingin dikritik di depan umum.

Kalaupun kritik itu tidak benar, harusnya kita mengadakan jumpa pers agar tidak menimbulkan fitnah dan menjelaskan semua permasalahannya akan tetapi jika kritik itu benar maka kita harus legowo untuk mengintrospeksi diri dan memperbaikinya menjadi lebih baik. Mudah-mudahan itu semua tidak terjadi di lingkungan kampus agar semua akademisi yang dicetak adalah individu yang berjiwa besar dan selalu mengharapkan kritik dan saran, baik secara pribadi maupun di depan umum. Kritik itu biasa, manusia ada salahnya….!