Latest Entries »


PLURALISME, why not?

Allah SWT menciptakan makhluk-Nya berpasang-pasangan, untuk saling melengkapi satu sama lain. Siang-malam, tua-muda, hidup-mati, besar-kecil dan seterusnya. Hanya Allah SWT yang Esa, tiada duanya. Sehingga kehidupan ini menjadi serba indah, penuh dengan cinta kasih-Nya.

Namun, ketenteraman itu telah direnggut oleh manusia-manusia jahil yang mengedepankan ego untuk memuaskan nafsu syetan. Mereka saling menumpahkan darah serta membakar peradaban mulia yang telah lama berkibar di bumi. Lupa akan janji Allah SWT, bahwa setiap perbuatan akan mendapat ganjaran setimpal. Berlaku baik akan menyenangkan, sebaliknya berlaku buruk akan menyengsarakan.

Wajar memang jika malaikat pernah protes ketika Allah hendak menjadikan manusia sebagai khalifah. Terbukti 100%, manusia cenderung anarkhis dalam bertindak. Hanya karena berbeda (baju/bendera/suku/ideologi/agama/iman), mereka tak segan-segan untuk merusak, membakar, bahkan membunuh orang yang berbeda itu.

Padahal, kita semua berasal dari nafs al-wahidah yakni satu kesatuan. Semua berasal dari Allah SWT, tak ada yang mengingkari itu. Lantas mengapa hanya karena propaganda oknum yang tak bertanggung jawab, kita semua terlena dan acuh terhadap sunatullah. Manusia diciptakan berbangsa-bangsa,bersuku-suku, berbeda satu sama lain adalah untuk saling mengenal serta melengkapi. Itu merupakan fitrah manusia sebagai khalifah Allah SWT.

Ironis memang, manusia sebagai citra Allah SWT yang idealnya “manut” kepada titah-Nya, sepanjang sejarah peradaban manusia selalu saja mengkhianati Allah dengan berbagai alasan. Alih-alih Allah SWT Maha Pengampun, manusia seenaknya berbuat dimuka bumi. Menerkam siapa saja yang menghalanginya, tak pandang musuh atau saudara.

Problem yang sering muncul tentu terkait SARA, khususnya agama. Setiap orang mengklaim agamanya yang paling benar dan agama lain salah sehingga hanya agamanya saja yang pantas masuk surga. Konflik juga timbul dalam satu agama, tak terkecuali Islam. Masing-masing kepala memiliki interpretasi yang berbeda mengenai ajaran Islam, terlebih dalam persepsi mengenai Allah SWT.

Islam yang dulunya satu, kini terpecah bagai buih dilautan. Syi’ah, Sunni, mu’tazilah, asy aiah, fundamental, liberal, plral, adalah kelompok-kelompok yang saling bersitegang entah sampai kapan. Disadari atau tidak, sebenarnya kelompok-kelompok tersebut diciptakan oleh Barat. Islam tidak pernah mengenal istilah tersebut, Islam hanya mengenal rahmatan lil’alamin.

Apapun alasannya, perbedaan dalam sebuah kesatuan merupakan suatu keniscayaan. Karena pada hakikatnya, semua berasal dari Allah SWT dan akan kembali kepada-Nya. Hidup dalam keberagaman tentu lebih indah ketimbang hidup monoton yang mengingkari sunatullah.

Mulutmu Harga Dirimu!


Mulutmu Harga Dirimu!

B

eberapa waktu lalu, seorang pemain bola menyatakan bahwa sepakbola adalah sesuatu yang tidak ada kaitannya dengan bisnis melainkan murni kegemaran mengolah si kulit bundar. Apa yang ia ucapkan seharusnya teraplikasi kepada kenyataan serta ia tidak mudah tergoda oleh iming-iming lembaran uang yang bertumpuk-tumpuk. Pemain muda dari klub kecil yang mengalami krisis financial sering berbenturan dengan nurani ke-sepakbola-an, disatu sisi mereka ingin bertahan dengan idalisme tapi disisi lain mereka juga butuh uang.

Ironis memang jika kita perhatikan pernyataan tersebut yang sangat jauh dari realitanya. Saat ini tentu yang terlintas dibenak setiap pemain bola adalah mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya agar dimasa tua ia tidak kesulitan untuk bertahan hidup, mengingat sepakbola telah beralih ke industri yang menjanjikan.

Tidak beda dengan seorang ustadz dan sejenisnya yang bicara manis (hanya) didepan kelompoknya kemudian ketika berada di masyarakat umum lain cerita lagi. Atau kadang ia hanya berani berkata didepan anak-anak kecil yang tidak tahu apa-apa, yang hanya bisa manggut-manggut meng-iya-kan perkataannya. Bagaimana ingin merubah suatu peradaban kalau setiap saat dibutuhkan oleh public, ada saja alasannya. Harusnya, ketika ia memang tidak sanggup bicara didepan umum maka ia tidak usah menggebu-gebu berkampanye tentang perubahan. Katakan yang haq itu haq dan yang bathil itu bathil, apapun kondisi dan tempatnya!

Karena lidah tidak bertulang, terkadang kita seenaknya berbicara kemudian jika dikonfirmasi langsung mengelak bahkan menampiknya. Apa yang keluar dari lisan seseorang adalah cermin akhlaknya, apakah pantas seorang ustadz dan sejenisnya bersikap demikian? Kalau tidak maka tunjukkan pada DUNIA!


AKHIRAT dalam PERSPEKTIF QUR’AN

Selama ini setiap orang memahami akhirat sebagai suatu kehidupan setelah seseorang meninggal dunia, yaitu berupa hari pembalasan tentang amal yang telah dilakukan selama ia hidup didunia apakah ia masuk surga atau neraka tergantung amalan yang dilakukan. Tidak salah memang jika diartikan demikian, tetapi hanya akan membuat kita selalu hidup dalam imajinasi belaka dan terus berharap sesuatu yang abstrak.

Berbeda jika akhirat kita pahami sebagai program jangka panjang yang harus kita persiapkan di dunia ini pasti kita akan lebih memiliki motivasi hidup yang luar biasa. Karena sesungguhnya Qur’an turun untuk menjawab semua permasalahan manusia di dunia ini, mengenai kehidupan setelah seseorang meninggal adalah urusan Allah SWT. Kita tidak bisa menerka apa yang akan terjadi nanti setelah manusia meninggal dunia karena sejak zaman Adam sampai saat ini atau bahkan sampai kapanpun orang yang telah meninggal dunia tidak akan bisa kembali kedunia serta menceritakan kejadian yang telah dialaminya.

Disadari atau tidak, dari 24 jam usia kita dalam sehari, hanya beberapa persen saja yang kita gunakan untuk persiapan akhirat. Selebihnya pasti terbuang sia-sia oleh kegiatan yang hanya berkutat dalam urusan duniawi. Coba kita ingat nikmat Allah yang tak terhingga, setiap saat mengalir dalam tubuh kita. Detak jantung yang tidak pernah berhenti, kedipan mata yang tak terhitung berapa kali dalam seharian penuh dan selalu kita nikmati. Kita sengaja selalu melupakan hal itu tetapi sering mudah berterima kasih kepada seorang yang berjasa kepada kita sementara kepada Allah yang selalu memanjakan kita dengan nikmat-nikmatNya, kita sering kali memalingkan ingatan.

Orang-orang bijak mengatakan bahwa dunia ini hanyalah keperluan, ibarat WC dalam sebuah rumah, dibangun semata sebagai keperluan. Karenanya siapapun dari penghuni rumah itu akan mendatangi WC jika perlu saja, setelah itu ditinggalkan. Sungguh sangat aneh bila ada seorang yang diam di WC sepanjang hari dan menjadikannya sebagai tujuan utama dari dibangunnya rumah itu. Begitu juga sebenarnya sangat tidak wajar bila manusia sibuk mengurus dunia setiap waktu dan menjadikannya sebagai tujuan hidup, sementara akhirat dilupakan. Kita hanya mementingkan keperluan akhirat saja tanpa memedulikan kepentingan dunia, hanya sibuk beribadah dan tidak memperhatikan keadaan lingkungan di sekitarnya.

Setiap orang takut akan siksa neraka yang konon memiliki panas yang sangat dahsyat, maka dari itu mereka selalu bersiap diri untuk itu semua yaitu dengan melakukan ibadah. Tetapi tidak sedikit pula orang yang dengan remeh tidak peduli pada dirinya sendiri misalnya merokok, mengkonsumsi makanan atau minuman yang berbahaya bagi tubuh. Mereka berpikir akhirat itu nanti setelah kita meninggal, tanpa sadar mereka melupakan sesuatu yang akan dan pasti terjadi yaitu siksa di alam nyata yaitu berupa penyakit.

وآخرون مرجون لأمر الله إما يعذبهم وإما يتوب عليهم والله عليم حكيم

Dan ada (pula) orang-orang lain yang ditangguhkan sampai ada keputusan Allah; adakalanya Allah akan mengadzab mereka dan adakalanya Allah akan menerima tobat mereka. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (at Taubah :106)

Maksudnya adalah ketika masa lalu seseorang merokok kemudian dia bertobat (tidak merokok lagi sampai kapanpun) maka di masa yang akan datang ia terbebas dari penyakit atau kalaupun ada mungkin hanya sedikit saja.

يغفر لكم من ذنوبكم ويؤخركم إلى أجل مسمى إن أجل الله إذا جاء لا يؤخر لو كنتم تعلمون

niscaya Allah akan mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan kamu sampai kepada waktu yang ditentukan. Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu mengetahui”. (Nuh :4)

Balasan di masa depan bisa berubah tergantung perbuatan kita pada saat ini, akan tetapi ketika masa depan sudah datang kita tidak bisa menolaknya dan kita tidak bisa kembali ke masa lalu karena balasan kita sudah sangat jelas yaitu sesuai dengan perbuatan kita.

Indikasi Akhirat

1. Kekal

Kehidupan akhirat kekal karena merupakan fase akhir dari kehidupan di dunia ini. Akhir perjalanan hidup seorang manusia jika namanya harum di masyarakat di akhir hidupnya maka ia akan selamanya dikenal baik akan tetapi sebaliknya jika namanya dikenang buruk oleh masyarakat maka selamanya ia akan dikenang buruk.

2. Lawan dari الدّنيا

Seperti halnya ciptaan Allah yang lain yaitu berpasang-pasangan maka akhirat dapat dipahami lawan dari dunia. Jika dunia dipahami sebagai program jangka pendek maka akhirat adalah program jangka panjang dan jika dunia di pahami sebagai materi maka akhirat adalah spiritual.

3. Sebuah penantian atau tujuan

Akhirat adalah sesuatu yang ditunggu-tunggu oleh setiap orang karena kita dapat merasakan balasan setiap perbuatan yang pernah kita lakukan pada masa lalu. Bisa juga disebut sebagai cita-cita dan impian setiap orang.

4. Hanya untuk para muttaqin

Qur’an sering mengungkap akhirat adalah tempat untuk orang-orang yang bertaqwa yaitu orang yang memiliki konsep yang bersumber dari Qur’an itu sendiri.

5. Balasan (kausalitas)

Akhirat adalah suatu bentuk balasan apa yang kita lakukan di alam ini. Dampak baik atau buruknya tergantung perbuatan kita. Setiap orang pasti merasakannya karena merupakan sunatullah yang akan di terima oleh setiap mahluk.

Kapan datangnya?

Kapan terjadi akhirat hanya Allah yang tahu tetapi paling tidak ada tandanya yaitu salah satunya kematian seseorang. Setiap orang dituntut untuk untuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk menghadapi akhirat. Apa yang kita dapat diakhirat sesuai dengan prilaku atau amalan kita selama hidup di dunia yang fana ini. Qur’an dan sunah Rasulullah tidak membicarakan sedikit pun tentang masa kedatangan akhirat. Bahkan secara tegas dalam berbagai ayat dinyatakan tidak seorang pun mengetahui kapan kehadirannya.

يسألونك عن الساعة أيان مرساها فيم أنت من ذكراها إلى ربك منتهاها

(Orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari berbangkit, kapankah terjadinya? Siapakah kamu (sehingga) dapat menyebutkan (waktunya)? Kepada Tuhanmulah dikembalikan kesudahannya (ketentuan waktunya). (an Nazi’at: 42-44)

اقترب للناس حسابهم وهم في غفلة معرضون

Telah dekat kepada manusia hari penghitungan segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (dari padanya). (al Anbiya’: 1)

Apakah ayat di atas menunjukkan kedekatan kiamat dari segi waktu? Boleh jadi. Akan tetapi tidak dapat dipahami bahwa kedekatan itu hanya dalam arti besok, seribu atau sepuluh ribu tahun kedepan dan boleh jadi ayat tersebut tidak menginformasikan kedekatan dalam arti waktu. Agaknya informasi Qur’an tentang kedekatan ini lebih dimaksudkan untuk menjadikan manusia selalu siap menghadapi kehadiran akhirat yang datang secara tiba-tiba. Seperti firman Allah:

أفأمنوا أن تأتيهم غاشية من عذاب الله أو تأتيهم الساعة بغتة وهم لا يشعرون

Apakah mereka merasa aman dari kedatangan siksa Allah yang meliputi mereka, atau kedatangan kiamat kepada mereka secara mendadak, sedang mereka tidak menyadarinya? (Yusuf: 107).

Untuk menghadapi kehidupan akhirat maka kita harus mempersiapkannya dengan bertakwa sebenar-benarnya takwa kepada Allah dan beribadah secara maksimal sesuai dengan yang tertera dalam Qur’an dan tuntunan Rasulullah. Jadi, akhirat adalah suatu konsekuensi logis yang akan dirasakan setiap manusia tergantung perbuatannya dan merupakan kondisi masa depan seseorang yang masih hidup di dunia, kekal sifatnya yaitu berupa balasan apa yang pernah dilakukan saat ini atau pada masa lampau.

Terjadinya akhirat hanya diketahui Allah sedangkan manusia hanya wajib mempersiapkannya. Seseorang harus jeli memilih hal yang tepat bagi masa depannya karena segala sesuatunya tergantung apa yang ia kerjakan saat ini. Setiap peristiwa pasti memiliki suatu hubungan yang erat, yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. “Hari ini adalah hasil pilihan kita kemarin dan hari esok adalah hasil dari pilihan kita hari ini”


“NATAL”

MUHAMMAD IBN ABDULLAH

Tanggal 12 rabi’ul awal sangat bernilai karena diyakini pada hari itu adalah kelahiran seseorang yang dapat memberi warna dalam peradaban kehidupan manusia. Jika kita cermati lebih teliti, sebenarnya saat itu yang lahir adalah seorang anak manusia yang tidak ada bedanya sama sekali dengan manusia lainnya. Anak yang lahir dari rahim Siti Aminah itu bernama Muhammad ibn Abdullah.

Sejak kecil, Muhammad ibn Abdullah hidup seperti layaknya manusia yang lain serta memilki akhlak yang sangat terpuji walau sebagai manusia juga tidak luput dari kesalahan. Ketika Muhammad ibn Abdullah mendapat wahyu kira-kira diusianya yang ke-40 bertepatan dengan bulan Ramadhan, maka segala tingkah laku baik perkataan dan perbuatannya terarah berdasarkan Allah SWT serta otomatis Muhammad ibn Abdullah berpangkat Rasulullah SAW. Sejak peristiwa tersebut, beliau menjadi seorang nabi dan rasul serta berdakwah menyebarkan Islam yang rahmatan lil‘alamin.

Selama sebulan ini, kita akan terus mendengar bahkan mendapat undangan perayaan maulid Nabi SAW. Baik dari tingkat RT, musholla, majlis ta’lim sampai ke masjid yang bonafit sekalipun pasti sibuk mempersiapkan dan mengadakan perayaan besar-besaran. Awalnya kegiatan tersebut dilakukan karena rasa cinta terhadap Rasulullah tapi lama kelamaan tidak jarang dari kita yang terjerumus pada kesombongan dan selalu berlomba-lomba menunjukkan kekayaan harta.

Setting sound dan panggung saja memakan biaya yang tidak sedikit, belum untuk mengisi acara dan lain sebagainya kira-kira mencapai jutaan rupiah. Bahkan kerapkali penyelenggara membebani umat dengan meminta sumbangan door to door, perusahaan dan pabrik layaknya pengemis. Kemudian setelah terkumpul, hanya dalam hitungan jam saja dana tersebut dihabiskan sia-sia. Sementara disekitar wilayah itu ada anak yatim, janda tua dan orang-orang yang masih berteriak kelaparan. Apakah Rasulullah SAW mengajarkan Islam yang seperti itu?.

Siapa yang harus kita ikuti? Apakah tradisi, kyai, Rasulullah atau Muhammad ibn Abdullah? Jika ingin mengikuti sunah Rasulullah SAW maka kita harus menggunakan akal dan nurani agar tidak terjerumus oleh godaan syetan yang membuat manusia selalu mengedepankan ego dan nafsu belaka. Perhatikan orang-orang dan alam disekitar kita karena mereka juga makhluk Allah yang harus mendapat jaminan ketentraman dan kenyamanan.

Jadi, yang lahir pada bulan rabi’ul awal adalah seorang anak manusia bernama Muhammad ibn Abdullah sedangkan datangnya seorang Rasulullah SAW adalah pada bulan Ramadhan. Tidak masalah memang jika tetap ingin merayakan maulid pada bulan rabi’ul awal, tetapi diharapkan esensi dari kegiatan tersebut harus bermanfaat untuk umat manusia dan tidak menimbulkan kesenjangan sosial dan gap antar kelompok. Semoga apa yang kita lakukan senantiasa diridhoi Allah SWT dan kita termasuk pengikut Rasulullah SAW. Amin


Valentine Syar’i

http://www.masgusti.wordpress.com

Happy Valentine! Itulah kalimat yang acap kali kita dengar dari lisan remaja-remaja ketika memasuki bulan Februari tepatnya pada tanggal 14. Namanya juga kehidupan pasti ada yang pro dan kontra agar hidup ini menjadi lebih hidup dan berwarna. Ada banyak versi  mengenai kisah Valentine atau asal muasal nama Valentine itu digunakan.

Salah satu versi menyebutkan bahwa Valentine diambil dari seorang pendeta yang bernama Santo Valentinus yang diyakini hidup pada masa Kaisar Claudius II. Dahulu, Santo Valentinus secara diam-diam menentang pemerintahan Kaisar Claudius II. Pasalnya, Kaisar menganggap bahwa seorang pemuda yang belum menikah akan lebih baik performanya ketika berperang. Ia melarang para pemuda untuk menikah demi menciptakan prajurit perang yang professional.

 Namun Santo Valentinus tidak setuju dengan peraturan tersebut dan secara diam-diam menikahkan setiap pasangan muda yang berniat untuk mengikat janji dalam sebuah pernikahan. Lambat laun aksi yang dilakukan Santo Valentinus tercium oleh Kaisar Claudius II yang mengakibatkan ia ditangkap dan dimasukkan ke penjara sampai akhirnya dihukum mati. Selama menjalani masa hukuman di penjara, ia jatuh hati kepada anak gadis sipir penjara.

Gadis yang dicintainya senantiasa selalu setia untuk menjenguk Valentinus di penjara. Tragisnya, sebelum ajal tiba Valentinus sempat meninggalkan pesan berbentuk sepucuk surat untuk gadis itu. Tiga buah kata yang tertulis sebagai tanda tangannya diakhir surat dan menjadi populer hingga saat ini yaitu “From Your Valentine”.

Mengenai tanggal 14 Februari yang setiap tahunnya dirayakan sebagi hari Valentine,  tenyata menyimpan ketidakjelasan karena kematian Santo Valentinus tidak ada yang mengetahui pasti tepat pada tanggal itu. Jauh sebelum itu, setiap tanggal 15 Februari masyarakat Romawi melakukan tradisi perayaan Lupercalia untuk menghormati dewa kesuburan dan hutan yang bernama Faunus. Tradisinya, seekor anjing dan dua ekor kambing disembelih kemudian kulitnya digunakan sebagai busana para pendeta. Setelah itu, para pendeta akan berkeliling kota dan para gadis akan menghampiri mereka untuk dipecut. Konon, pecutan ini dapat menjaga kesuburan perempuan. Untuk mengalihkan tradisi politheisme ini, Paus Gelasius I meresmikan tanggal 14 Februari sebagai jamuan bernama St.Valentine Day.

Jika kita melihat sejarah Valentinus diatas, maka pemikiran kita tidak akan sinis lagi terhadap kelompok yang pro atau yang selalu merayakan hari Valentine setiap tahun. Mengingat jasanya yang telah mengorbankan nyawanya demi mempersatukan cinta pasangan muda melalui sebuah ikatan pernikahan. Perbuatan yang dilakukan Valentinus sesuai dengan ajaran Islam yang tertera di dalam Qur’an yaitu :

يا أيها الناس إنا خلقناكم من ذكر وأنثى وجعلناكم شعوبا وقبائل لتعارفوا إن أكرمكم عند الله أتقاكم إن الله عليم خبير.

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (al Hujurat: 13).

ومن آياته أن خلق لكم من أنفسكم أزواجا لتسكنوا إليها وجعل بينكم مودة ورحمة إن في ذلك لآيات لقوم يتفكرون.

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir (ar Rum: 21).

 

Dan juga hadits :

عن عبد الله بن مسعود رضي الله تعال عنه قال: قال لنا رسول الله صلّى الله عليه وسلم : يامعشرالشّباب من الستطاع منكم الباءة فليتزوّج فإنّه أغضّ للبصر وأحصن للفرج ومن لم يستطع فعليه بالصّوم فإنّه له وجاءٌ. (متّفق عليه)

Dari Abdillah bin Mas’ud R.A, ia berkata bahwasanya Rasulullah SAW telah bersabda: “Wahai golongan pemuda, barang siapa diantara kamu telah mampu berumah tangga maka kawinlah, karena kawin lebih bisa menundukkan pandangan dan menjaga farji (kemaluan). Dan barang siapa yang belum mampu maka hendaknya ia berpuasa, karena yang demikian itu dapat mengurangi syahwat”. (HR. Muttafaq Alaih) 

Jelas bahwa tindakan Santo Valentinus tidak menentang syariat Allah SWT karena cinta adalah kodrat setiap manusia bahkan semua makhluk yang terdapat di alam semesta ini. Allah menciptakan kita berbeda dan berpasang-pasangan agar kita saling mengenal dan memakmurkan kehidupan di dunia ini bersama-sama. Dengan adanya perayaan Valentine, seseorang yang biasanya muram sendirian di kamar akan tertarik ketika diajak ke pesta yang  membuatnya merasa nyaman. Karena hakikat manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri.

 Jadi, kenapa kita harus memusuhi orang-orang yang merayakan Valentine? Bahkan sebagian ada yang mengatakan perayaan Valentine adalah haram bagi umat muslim karena dianggap sebagai misi kristenisasi yang dibungkus rapi agar para remaja tergiur untuk mengikutinya. Tetapi ironisnya, pihak gereja membantah bahwa itu semua tidak ada hubungannya dengan agama mereka. Terlebih mereka mengatakan itu hanyalah tradisi Barat yang menganut kapitalisme.

Seiring dengan perkembangan zaman, perayaan Valentine telah banyak mengalami pergeseran nilai dan cenderung hanya memperturutkan hawa nafsu belaka. Betapa tidak, sepasang remaja sudah biasa melakukan hubungan suami istri ketika perayaan Valentine. Semua pebisnis berlomba-lomba menggaet konsumen sebanyak-banyaknya lewat souvenir atau atribut-atribut Valentine, seperti coklat, bunga dan kartu ucapan. Media elektronik pun tidak ingin kalah, mereka menghipnotis pemirsa terutama remaja dengan film-film percintaan. Generasi muda yang menjadi tumpuan bangsa kini dicekoki dengan kebiasaan hidup hedonis. Yang ada di dalam otak mereka hanyalah hidup bersenang-senang, tidak peduli tindakan mereka berlebihan atau tidak. Qur’an menyinggung :

وآت ذا القربى حقه والمسكين وابن السبيل ولا تبذر تبذيرا. إن المبذرين كانوا إخوان الشياطين وكان الشيطان لربه كفورا.

Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya (al Isra’: 26-27).

Idealnya, momen perayaan Valentine kita gunakan sebagai ajang silaturahim antar umat beragama yang selalu bertolak belakang dan terkesan tidak pernah akur. Dengan adanya pertemuan seperti ini, akan membuat hidup setiap pemeluk agama semakin nyaman dan damai. Seyogyanya kita memandang segala persoalan dari berbagai sudut, agar objek yang kita lihat tidak bias dan menimbulkan salah persepsi. Selamat merayakan hari Valentine, from your Valentine.     

 


Penerapan syariat Islam di Indonesia sangat gencar didengungkan oleh sebagian umat Islam fundamental. Namun demikian, banyak juga perlawanan yang muncul dari kelompok Islam moderat. Di tahun 1950-an, penolakan syariat Islam berasal dari luar komunitas Islam tetapi saat ini berasal dari dalam tubuh Islam itu sendiri. Misalnya partai-partai yang dulunya tergabung dalam Masyumi yang menuntut syariat Islam, kini berbalik menyerang ketika ada tuntutan penerapan syariat seperti menambah tujuh kata dalam piagam Jakarta.

 Kontradiksi penerapan syariat sebenarnya terletak pada pemahaman tentang makna syariat itu secara spesifik atau secara global. Kelompok yang getol berkampanye menuntut penerapan syariat Islam diantaranya Hizbut Tahrir, Front Pembela Islam dan ormas Islam lain yang mendukung. Mereka menolak semua hukum yang dibuat manusia, karena hukum yang wajib dipatuhi hanya hukum Allah SWT dan sering kali mereka bentrok dengan kebijakan pemerintah yang sah karena cenderung radikal.

Sementara golongan yang sangat antusias dan tidak bosan-bosan menolak penerapan syariat Islam seperti JIL dan kaum Islam moderat lainnya. Mereka menolak penerapan syariat yang terbatas pada bidang keagamaan saja atau cenderung statis. Mereka mendukung penerapan syariat yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia yang berkeadilan dan mensejahterakan.

Syariat tidak terpaku pada suatu sistem atau aturan tertentu dan statis tetapi harus relevan dengan perkembangan yang ada dalam masyarakat. Dalam syariat terdapat kebebasan berakidah, penghormatan kepada perempuan serta nilai-nilai mulia lain yang membuka dan membimbing manusia menuju peradaban yang dicita-citakan.

Sementara itu, sebagian kelompok ada yang mendengungkan tuntutan penerapan syariat di muka bumi ini berdasarkan isme-nya dan terjadi hegemoni syariat yang tidak melihat kepentingan publik. Misalnya di Indonesia, tahun 1950-an isu penerapan syariat Islam mendapat perlawanan dari luar Islam tetapi saat ini perlawanan itu gencar di lakukan oleh sebagian pengikut Islam itu sendiri. Kelompok yang pro dengan syariat Islam selalu berkutat pada masalah keagamaan saja sehingga menimbulkan kontradiksi dengan kelompok lain.  

Seyogyanya penerapan syariat lebih menekankan pada masalah kemaslahatan umum yang berkeadilan dan mensejahterakan tanpa ada skat apapun. Idealnya syariat harus demokratif dalam pembuatannya dan mencakup seluruh aspek kehidupan sehingga tidak ada yang merasa dirugikan.

Islam dan demokrasi tidak bertabrakan karena keduanya sejalan. Demokrasi yang artinya dari, untuk dan oleh rakyat maksudnya adalah semua urusan yang berhubungan dengan kehidupan manusia diatur berdasarkan kesepakatan komunitas itu tanpa meninggalkan nilai-nilai ketuhanan yang sangat agung dan mulia. Tuhan menyerahkan mandat kepada manusia untuk mengatur muamalah antarsesama agar manusia hidup tenteram dan makmur.

 Di Indonesia syariat yang tepat adalah demokrasi dengan azas pancasila, karena pancasila sejatinya merupakan butir-butir yang mencakup nilai-nilai Islam di dalamnya. Syariat tidak terbatas dan selalu berubah sesuai perkembangan zaman atau generasi selanjutnya. Bukan merupakan aturan suatu komunitas tertentu yang kemudian diterapkan secara paksa terhadap komunitas lain diluar itu.

Kasus di Indonesia yang memiliki masyarakat majemuk, sangat mustahil menerapkan syariat Islam karena Islam sendiri masih bercabang-cabang lagi. Syariat yang tepat diterapkan di Indonesia dibuat secara demokratis yang berdasarkan Pancasila. Karena Indonesia bukan negara agama melainkan negara beragama yang berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa.

Akan lebih baik jika nilai-nilai yang mulia dibungkus istilah barat atau non-Islam daripada syariat yang ber-embel-embel Islam atau arabisasi namun pada kenyataannya hanya cenderung kepada ego pribadi dan kepentingan golongan tertentu saja.

 


 

mas Gusti

S

alah satu bangunan yang menjadi simbol umat Islam adalah masjid, tetapi belakangan ini tempat tersebut tidak diminati oleh sebagian besar generasi muda muslim itu sendiri. Mereka lebih senang datang ke bioskop, klub malam dan tempat-tempat lain yang menurut mereka lebih asyik untuk dikunjungi. Di masjid, tidak ada yang menarik hati para remaja melainkan hanya dogma-dogma yang membuat mereka bosan.

Masjid terbagi menjadi dua yaitu berdasarkan dzohir dan bathin, secara bathin masjid dapat diartikan sebuah tempat dimana seorang muslim bisa melakukan sujud atau sholat asalkan menghadap kiblat sedangkan secara dzohir masjid berarti sebuah bangunan yang memiliki atap sehingga orang yang berada di dalamya merasa nyaman dan tempat interaksi sosial seluruh umat manusia, karena memang fitrah manusia sebagai homo homini socius.

Banyak yang berpendapat bahwa masjid dibangun hanya untuk umat muslim dan lebih parahnya lagi bangunan itu didirikan hanya untuk ibadah saja seperti sholat. Tempat itu sangat sakral sehingga tidak ada kegiatan lain di dalamnya dan umat non-muslim dilarang masuk. Karena menurut mereka umat non-muslim itu najis bila masuk masjid. Masyaالله

Disadari atau tidak pikiran kita telah diracuni oleh yahudisme dan memandang hanya kelompok kita saja yang paling benar sementara golongan lain rendah tak ada nilainya. Umat non-mulim yang bertaqwa dan konsisten pada ajaran agamanya adalah lebih baik daripada umat muslim yang tidak konsisten terhadap ajaran Allah SWT dan agama hanya sebuah formalitas belaka. Quran menyinggungnya dalam ayat     :

   يا أيها الناس إنا خلقناكم من ذكر وأنثى وجعلناكم شعوبا وقبائل لتعارفوا إن أكرمكم عند الله أتقاكم إن الله عليم خبير.

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di hadapan Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (al Hujurat:13).

Bangunan masjid seyogyanya dijadikan pusat kegiatan interaksi sosial seluruh umat yang berdampak positif, tidak melulu hanya untuk sholat dan siapa pun boleh masuk ke dalamnya. Ajang curhat bagi muda-mudi yang sedang meraba-raba jati diri dan sedang dimabuk asmara. Secara psikis, jika muda-mudi dilarang berduaan di masjid maka secara tidak langsung kita menyuruh mereka melakukannya di luar masjid yaitu di bioskop, klub malam dan di sudut-sudut tempat yang sepi seperti kampus misalnya.

Akan lebih baik jika kita mengarahkan mereka untuk berduaan atau kencan di masjid, saya yakin mereka tidak akan berbuat macam-macam seperti berciuman misalnya atau yang lebih parah lagi karena mereka berpikir tidak etis melakukannya di masjid sehingga lama namun pasti mereka akan sadar dengan sendirinya. Kemudian kita dapat membuat kelompok yang mengedepankan kepentingan umum dan menyelesaikan semua masalah kehidupan dengan musyawarah atau lebih keren dikenal dengan ngerumpi.

Jika sudah sedemikian rupa maka tidak menutup kemungkinan generasi muda akan banyak meluangkan waktu di masjid dan terhindar dari jurang kemaksiatan. Hal ini tentu tidak mudah dicapai karena pasti kelompok-kelompok Islam fanatisme sempit akan menjadi batu kerikil yang menghalangi citi-cita tersebut.

Semua kembali kepada kita sebagai umat muslim, masjid sebagai tempat umum untuk interaksi sosial seluruh umat yang di dalamnya terdapat ketaqwaan kepada Allah SWT atau sebagai tempat ibadah kaum muslim saja sehingga ditinggalkan oleh generasi muda dan bangunan itu lebih mirip seperti WC dimana kita masuk hanya seperlunya saja setelah itu keluar lagi serta tidak ada interaksi sosial di dalamnya.     


mas Gusti

Seorang raja adalah satu –satunya yang tidak bisa diganggu gugat, apa pun perintahnya harus dituruti dan jika membangkang maka raja akan menghukumnya. Pola seperti itu yang melatarbelakangi timbulnya feodalisme dikalangan masyarakat primitif. Apa pun yang diperbuat raja, rakyat harus menerimanya tidak peduli salah atau benar dan suka tidak suka.

Islam datang untuk menghapus sistem feodal pada masyarakat primitif tersebut agar setiap manusia memiliki status yang sama dihadapan Allah SWT. Lucu memang, ternyata setelah Islam datang pun masyarakat masih menerapkan budaya itu. Siapa yang kuat maka dia menang dan siapa yang menjabat maka keputusannya mutlak tidak dapat dikritik oleh siapapun.

Berkali-kali rakyat memprotes tindakan pemerintah yang semena-mena membangun koridor Busway. Konon katanya sebagai kemajuan pembangunan dan sangat bermanfaat untuk rakyat tapi nyatanya menjadi problem klasik yang tak kunjung selesai yaitu kemacetan semakin bertambah di setiap jalan.

Pemerintah tidak menggubris protes rakyat dan terus melancarkan ambisinya tanpa memikirkan kerugian masyarakat yang hanya menghabiskan waktu di jalanan menikmati macet. Sangat disayangkan memang, idealnya seorang pemimpin itu mengayomi bawahannya sehingga saling sinergis dalam membangun peradaban yang diidam-idamkan bukan mengedepankan ego dan senantiasa seorang pemimpin selalu siap menerima kritik dan saran dari yang dipimpinnya.

Fenomena tersebut harusnya tidak menjalar ke kampus yang notabene adalah pabrik akademisi sehingga kelak pemimpin-pemimpin kita tidak bersikap feodal dan selalu legowo menerima kritik dan saran. Namun apa mau dikata jika kenyataannya tidak demikian, para elit kampus dengan power-nya lebih bersikap seperti raja absolut yang tidak ingin dikritik di depan umum.

Kalaupun kritik itu tidak benar, harusnya kita mengadakan jumpa pers agar tidak menimbulkan fitnah dan menjelaskan semua permasalahannya akan tetapi jika kritik itu benar maka kita harus legowo untuk mengintrospeksi diri dan memperbaikinya menjadi lebih baik. Mudah-mudahan itu semua tidak terjadi di lingkungan kampus agar semua akademisi yang dicetak adalah individu yang berjiwa besar dan selalu mengharapkan kritik dan saran, baik secara pribadi maupun di depan umum. Kritik itu biasa, manusia ada salahnya….!


Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.